Banyak orang mempertanyakan keberhasilan program Sertifikasi Guru. Dalam pembicaraan dengan para asesor mereka mengatakan bahwa dalam portofolio para guru beberapa kali ditemukan sertifikat yang aspal dan dokumen lain yang meragukan. Selain itu ada pula program pembekalan guru (PLPG) untuk memenuhi syarat sertifikasi juga dirasa tidak begitu efektif. Fenomena-fenomena tadi menghantar kepada kesimpulan bahwa program sertifikasi tidak banyak membantu meningkatkan kualitas guru, dan program itu salah sasaran (Kompas, 13 November 2009).
Di tengah sisnisme pelaksanaan sertifikasi yg terkesan formalistik, ada dua fenomena yang harus dilihat sebagai keberhasilan program Sertifikasi Guru. Yang pertama, peminat untuk masuk dalam program PGSD di banyak perguruan tinggi meningkat. Yang kedua, banyak guru melakukan studi lainjut ke S1 dan S2. Yang lebih menarik, beberapa Sekolah Menengah mengambil program S3.
Faktanya jumlah mahasiswa PGSD yg masuk meningkat dari tahun ke tahun. Dari situs universitas yang saya kunjungi, saya mendapat informasi peningkatan antusiasme calon mahasiswa. Universitaspun merespon baik dengan memberi ruang yang lebih lebar bagi mereka. Universitas Sanata Dharma tahun ini menerima sekitar 300 mahasiswa PGSD, Universitas Sarjana Wiyata Yogyakarta dalam saringan gelombang kedua menerima 100 orang mahasiswa. Universitas Negri Yogyakarta menenerima 4 kelas baru PGSD dengan jumlah mahasiswa sekitar 200 orang. Universitas terbuka juga sangat diminati. Tahun lalu mereka menerima 3.130 mahasiswa pendidikan dasar. Perkiraan tahun ini jumlahnya akan meningkat karena untuk gelombang pertama mereka sudah menerima 1.621 orang.
Peningkatan minat untuk menjadi guru tidak didominasi pelajar dan mahasiswa dari Jawa. UKSW yang mengadakan penjaringan mahasiwa di Kabupaten Landak mendapat 902 pendaftar untuk 48 kursi yang disediakan (Pontianak Post, 21 Juli 2010). IKIP Negri Singaraja bahkan sudah merasakan peningkatan minat masyarakat sejak tahun 2005. Pada tahun tersbut mereka menerima 1297 mahasiswa PGSD.
Di DIY banyak guru mengambil program S2 baik di universitas negri maupun swasta. Beberapa medapat bantuan beasiswa melalui LPMP dan dari pemerintah daerah. Yang lainnya belajar dengan beaya sendiri. Paling tidak tahun ini ada dua orang guru sekolah menengah yang mengambil program S3 dengan beaya sendiri.
Meningkatnya minat untuk mengembangkan diri sebagai guru dengan mengambil program studi lanjut dan kemampuan finansial untuk membeayai beaya studi lanjut secara mandiri saya interpretasikan sebagai keberhasialan Program Sertifikasi guru.
Dalam diskusi informal mahasiwa S3 Ilmu Pendidikan UNY yang diikuti seorang pegawai Dinas Pendidikan dari Kabupaten Dompu dan dosen-dosen berbagai perguruan tinggi tercetus pemikiran bahwa tunjangan sertifikasi menarik minat banyak orang untuk masuk program PGSD. Mereka juga mengakui bahwa dampak program ini mungkin tidak bisa dirasakan secara maksimal sekarang atau dalam jangka waktu yang pendek, tetapi untuk jangka waktu yang panjang. Mereka berpendapat kalau program ini bisa berkesinambungan, kualitas guru-guru di Indonesia akan meningkat.
Kerberhasilan ini memang akan dirasakan bangsa ini untuk jangka waktu yang panjang. Dalam beberapa tahun ke depan, bangsa ini akan mempunyai guru-guru yang lebih berkualitas dan berdedikasi untuk menjadi guru. Menjadi guru bukan merupakan pilihan kedua atau ketiga dalam memilih pekerjaan, tetapi dari data minat mahasiswa yang masuk program PGSD, mereka memang dari awalnya berminat untuk menjadi guru.
Yang harus Diperhatikan Bersama
Yang pertama, perguruan tinggi jangan semata-mata melihat peningkatan minat untuk masuk program PGSD dari segi peluang bisnis saja. Memang beberapa perguruan tinggi mengalami penurunan dalam jumlah mahasiswa barunya. Jangan sampai terjadi peningkatan minat masyakat untuk masuk program PGSD, perguruan-perguruan tinggi lalu membuka kran selebar-lebarnya untuk mendapatkan keuntungan sesaat dengan menerima mahasiswa sebanyak-banyaknya.
Rasio antara dosen dengan mahasiswa harus diperhatikan. Selain itu pematangan kurikulum untuk mahasiswanya harus selalu dilakukan sehingga alumni mereka sungguh bisa menjawab kebutuhan pendidikan kita. Langkah seperti ini sudah diambil beberapa perguruan tinggi, misalnya UNY, Pernah UNY menerima 8 kelas PGSD karena dalam evaluasi ditemukan adannya potensi untuk menjadi tidak maksikal tahun ini hanya menerima 3 kelas saja.
Perencanaan keuangan untuk tunjangan sertifikasi harus lebih serius diperhatikan. Sebagaimana pernah diungkapkan oleh Mentri Pendidikan, pertahunya dibutuhkan 62 triliun per tahun untuk sertifikasi (Kompas, 14 Mei 2010). Jangan sampai orang patah semangat karena sudah berusaha memenuhi standar sertifikasi dan mendapat sertifikat tetapi pemberian tunjangannya tidak lancar, apa lagi ketika uang itu digunakan untuk studi lanjut.
Perlu diciptakan alternatif kegiatan yang sifatnya pengembangan profesionalitas guru untuk memenuhi tuntutan untuk mengajar 24 jam seminggu. Guru yang bukan karena kemauannya sendiri tidak bisa memenuhi tuntutan 24 jam, misalnya, bisa mengganti ketentuan tersebut dengan jumlah jam yang sama untuk peningkatan kemampuan diri guru, bisa mengambil studi lanjut atau kursus-kursus yang sungguh menambah kompetensi mengajar mereka. Dengan demikian guru bisa menikmati tunjangan sertifikasi dan mereka selalu terdorong untuk menjadi lebih profesional.
Rabu, 06 April 2011
Sisi Keberhasilan Program Sertifikasi Guru
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar