Laman

Sabtu, 25 Juni 2011

RSBI dan SBI: Apa yang akan distandarisasi?

Berita yang mengatakan bahwa banyak sekolah berusaha untuk menjadi sekolah RSBI atau SBI hanya untuk mendapatkan sejumlah dana tertentu (Kompas, 7 Oktober 2009) tidaklah mengejutkan. Banyak yang mempertanyakan apakah RSBI dan SBI ditujukan untuk prestasi atau gengsi (Antaranews, 12 Juni 2010). Koalisi Pendidikan juga menyoal pembelian lisensi kurikurum dari luar (Kompas, 27 Juli 2010). Berita-berita ini menunjukkan bahwa konstruksi RSBI dan SBI tidaklah jelas. Bahkan pada praktiknya, sekolah ingin meningkat menjadi RSBI atau SBI agar mereka bisa menarik dana pendidikan dari masyarakat dan mendapatkan gengsi.
Pelaksanaannya menjadi terkesan dipaksakan. Guru-guru yang kompetensi bahasa Inggrisnya kurang, dipaksa untuk menyampaikan materi pelajaran dangan menggunakan bahasa Inggris. Bisa dibayangkan seseorang yang masih malu-malu menyapa dalam bahasa Inggris harus mengajar menggunakan bahasa itu.
Lebih lucu lagi ketika di kelas SBI ada siswa yang pernah tinggal di negara berpenutur bahasa Inggris. Murid-murid yang semacam ini kadang justru tidak memahami apa yang dikatakan gurunya, apalagi ketika buku pegangannya bukan dibuat penutur asli bahasa Inggris. Tidak jarang mereka kadang menganggap bahasa Inggris gurunya lucu.
Pertanyaan yang sangat mendasar adalah kenapa harus distandarisasi dengan kurikulum internasional. Kalau memang harus distandarkan, apanya?

Tidak Harus Sama
Nampaknya RSBI dan SBI mengindikasikan bahwa anak didik kita akan dibuat mempunyai kemampuan/kompetensi yang sama atau sejajar dengan siswa di luar negri, utamanya siswa di negara negara maju. Tujuannya agar daya saing kita meningkat (Pemendiknas no 78 tahun 2009).
Menurut hemat saya, konsep semacam ini tidaklah tepat. Yang pertama, bangsa kita akan kehilangan jatidirinya dan yang kedua dengan konstruksi yang tidak matang akan sulit bagi kita untuk mengejar kemajuan mereka.
Kalau kita berusaha mengejar mereka, mereka tidak akan memerlukan kita karena mereka lebih baik. Kitalah yang akan selalu membutuhkan mereka. Ujung-ujungnya kita hanya akan terjajah secara intelektual.
RSBI dan SBI harus dikritisi supaya tidak menghilangkan jati diri kita. Bukankan kalau kita mempunyai keunikan justru kita bisa bertransaksi. Sebagai contoh orang asing datang ke Bali tentu tidak mencari apa yang ada di negaranya. Mereka menikmati alam dan budaya asli Indonesia. Beberapa dari mereka mempelajari cara hidup orang Bali. Mereka tidak akan datang ke Bali kalau negaranya sudah mempunyai sesuatu yang sama.
Kita negara agraris dan negara maritim. Secara alamnya atau nature-nya keadaannya tidak sama. Tentu saja nurture atau budayanya juga sangat berbeda. Apa yang akan kita standarkan?
Yang harus juga kita pertanyakan adalah penggunaan bahasa Inggris sebagai pengantar mata pelajaran bahasa Inggris dan setidak-tidaknya pelajaran MIPA. Kalau gurunya saja tidak menguasai bahasa Inggris dengan baik, apakah justru mereka akan memberi konsep yang salah?

Harus Percaya Diri
Sebagaimana sudah saya ungkapkan sebelumnya, orang bertransaksi dan saling membutuhkan kalau mereka mempunyai sesuatu yang berbeda. Secara alamiah kita berbeda. Artinya dengan mengandalkan alam saja sebenarnya orang sudah membutuhkan kita, apalagi kalau kita mempunyai keahlian untuk memaksimalkannya.
Kalau kita mau meningkatkan daya saing global, justru budaya kita yang harus kita kembangkan. Ketika budaya kita berkembang, orang lain tentu akan tertarik untuk menikmatinya. Hal ini sejalan dengan tujuan SBI sebagaimana tercantum dalam Permendiknas no 78 tahun 2009, bahwa salah satu tujuan SBI adalah menampilkan kemampuan lokal di tingkat internasional.
Pendidikan sudah selayaknya diarahkan agar bisa membuat anak tumbuh secara maksimal agar bisa berkontribusi maksimal untuk pengembangan budaya kita. Anak didik harus bisa menjadi excellent in their own ways tidak harus dibandingkan apalagi dengan anak luar negri.
Pendidikan kita seharusnya mengembangkan jati diri bangsa. Anak didik harus diarahkan supaya percaya diri membangun budaya yang pas untuk mengolah alam yang ada. Kalau negara kita negara agraris ilmu tentang pertanian harus maju bukan seperti sekarang ini fakultas-fakultas pertanian seperti menjadi pilihan ke tiga atau ke empat.
Kalau wilayah laut kita sangat luas kenapa kita tidak memaksimalkan kekayaan alam yang ada dengan bijaksana? Orang akan menghormati kita karena kita mempunyai keahlian dalam bidang pertanian dan kelautan. Mereka yang mempunyai keahlian lain tentu akan membutuhkan bahan makanan yang baik yang kita hasilkan.

Beberapa Usulan
Konstruksi Sekolah Berstandar Internasional atau rintisannya harus ditinjau ulang. Paling jangan hanya dipersempit dengan mengambil kurikulum dan bahan dari luar negri yang belum tentu cocok dan bisa meningkatkan daya saing bangsa. Pembelian lisesni ini juga yang disinyalir sebagai penyebab tingginya beaya pendidikan SBI.
Konsep-konsep yang ada dalam Permendiknasnya harus lebih jelas, misalnya daya saing dan keunggulan lokal. Daya saing jangan dipersempit sebagaimana pasal 2 bagian c dan d, siswa kejuruan bisa bersaing untuk mendapatkan pekerjaan di luar negri dan perolehan medali dalam kompetisi-kompitisi yang diadakan. Daya saing yang dimaksud dalam dua bagian tersebut sangatlah dangkal dan cenderung untuk segelintir orang.
Penggunaan Bahasa Inggris dalam penyampaian materi harus diperjelas tujuannya. Yang jelas, dari pada mengajarkan matapelajaran dengan bahasa Inggris yang menyedihkan lebih baik jam pelajaran bahasa Inggris diperbanyak dan metode pengajarannya diperbaiki. Dengan demikian siswa akan mempunyai kompetensi yang cukup untuk bisa belajar sebuah ilmu yang baru melalui bahasa Inggris.
Mata pelajaran lain di luar bahasa Inggris lebih baik diajarkan dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantar. Dengan demikian siswa bisa memahami konsep dan mereka akan lebih bisa mengkonstruksi pengetahuan baru dengan lebih utuh.
Sistem pembiayaan sekolah yang sekarang dijalankan nampaknya sangat merugikan pelaksanaan pendidikan. Sekolah non RSBI atau SBI dilarang menarik dana dari masyarakat. Akibatnya, beberapa kegiatan di sekolah berstandar nasional, yang nota bene bisa memajukan anak secara holistik, banyak yang dihentikan dengan alasan sekolah tidak mempunyai dana. Dengan nafas desentralisasi sistem pendidikan, komunitas seharusnya diberi ruang lebih untuk memikirkan kebutuhan sekolah mereka masing-masing.
Penarikan dana dari masyarakat perlu dipertimbangkan, sebab ada kecenderungan munculnya kastanisasi dalam pendidikan. Yang mempunyai banyak uanglah yang bisa bersekolah di SBI atau RSBI. Hal ini tentu bertentangan dengan tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa seperti tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 dan bertentangan pula dengan asas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Read More......

Rabu, 06 April 2011

Sisi Keberhasilan Program Sertifikasi Guru

Banyak orang mempertanyakan keberhasilan program Sertifikasi Guru. Dalam pembicaraan dengan para asesor mereka mengatakan bahwa dalam portofolio para guru beberapa kali ditemukan sertifikat yang aspal dan dokumen lain yang meragukan. Selain itu ada pula program pembekalan guru (PLPG) untuk memenuhi syarat sertifikasi juga dirasa tidak begitu efektif. Fenomena-fenomena tadi menghantar kepada kesimpulan bahwa program sertifikasi tidak banyak membantu meningkatkan kualitas guru, dan program itu salah sasaran (Kompas, 13 November 2009).
Di tengah sisnisme pelaksanaan sertifikasi yg terkesan formalistik, ada dua fenomena yang harus dilihat sebagai keberhasilan program Sertifikasi Guru. Yang pertama, peminat untuk masuk dalam program PGSD di banyak perguruan tinggi meningkat. Yang kedua, banyak guru melakukan studi lainjut ke S1 dan S2. Yang lebih menarik, beberapa Sekolah Menengah mengambil program S3.
Faktanya jumlah mahasiswa PGSD yg masuk meningkat dari tahun ke tahun. Dari situs universitas yang saya kunjungi, saya mendapat informasi peningkatan antusiasme calon mahasiswa. Universitaspun merespon baik dengan memberi ruang yang lebih lebar bagi mereka. Universitas Sanata Dharma tahun ini menerima sekitar 300 mahasiswa PGSD, Universitas Sarjana Wiyata Yogyakarta dalam saringan gelombang kedua menerima 100 orang mahasiswa. Universitas Negri Yogyakarta menenerima 4 kelas baru PGSD dengan jumlah mahasiswa sekitar 200 orang. Universitas terbuka juga sangat diminati. Tahun lalu mereka menerima 3.130 mahasiswa pendidikan dasar. Perkiraan tahun ini jumlahnya akan meningkat karena untuk gelombang pertama mereka sudah menerima 1.621 orang.
Peningkatan minat untuk menjadi guru tidak didominasi pelajar dan mahasiswa dari Jawa. UKSW yang mengadakan penjaringan mahasiwa di Kabupaten Landak mendapat 902 pendaftar untuk 48 kursi yang disediakan (Pontianak Post, 21 Juli 2010). IKIP Negri Singaraja bahkan sudah merasakan peningkatan minat masyarakat sejak tahun 2005. Pada tahun tersbut mereka menerima 1297 mahasiswa PGSD.
Di DIY banyak guru mengambil program S2 baik di universitas negri maupun swasta. Beberapa medapat bantuan beasiswa melalui LPMP dan dari pemerintah daerah. Yang lainnya belajar dengan beaya sendiri. Paling tidak tahun ini ada dua orang guru sekolah menengah yang mengambil program S3 dengan beaya sendiri.
Meningkatnya minat untuk mengembangkan diri sebagai guru dengan mengambil program studi lanjut dan kemampuan finansial untuk membeayai beaya studi lanjut secara mandiri saya interpretasikan sebagai keberhasialan Program Sertifikasi guru.
Dalam diskusi informal mahasiwa S3 Ilmu Pendidikan UNY yang diikuti seorang pegawai Dinas Pendidikan dari Kabupaten Dompu dan dosen-dosen berbagai perguruan tinggi tercetus pemikiran bahwa tunjangan sertifikasi menarik minat banyak orang untuk masuk program PGSD. Mereka juga mengakui bahwa dampak program ini mungkin tidak bisa dirasakan secara maksimal sekarang atau dalam jangka waktu yang pendek, tetapi untuk jangka waktu yang panjang. Mereka berpendapat kalau program ini bisa berkesinambungan, kualitas guru-guru di Indonesia akan meningkat.
Kerberhasilan ini memang akan dirasakan bangsa ini untuk jangka waktu yang panjang. Dalam beberapa tahun ke depan, bangsa ini akan mempunyai guru-guru yang lebih berkualitas dan berdedikasi untuk menjadi guru. Menjadi guru bukan merupakan pilihan kedua atau ketiga dalam memilih pekerjaan, tetapi dari data minat mahasiswa yang masuk program PGSD, mereka memang dari awalnya berminat untuk menjadi guru.

Yang harus Diperhatikan Bersama
Yang pertama, perguruan tinggi jangan semata-mata melihat peningkatan minat untuk masuk program PGSD dari segi peluang bisnis saja. Memang beberapa perguruan tinggi mengalami penurunan dalam jumlah mahasiswa barunya. Jangan sampai terjadi peningkatan minat masyakat untuk masuk program PGSD, perguruan-perguruan tinggi lalu membuka kran selebar-lebarnya untuk mendapatkan keuntungan sesaat dengan menerima mahasiswa sebanyak-banyaknya.
Rasio antara dosen dengan mahasiswa harus diperhatikan. Selain itu pematangan kurikulum untuk mahasiswanya harus selalu dilakukan sehingga alumni mereka sungguh bisa menjawab kebutuhan pendidikan kita. Langkah seperti ini sudah diambil beberapa perguruan tinggi, misalnya UNY, Pernah UNY menerima 8 kelas PGSD karena dalam evaluasi ditemukan adannya potensi untuk menjadi tidak maksikal tahun ini hanya menerima 3 kelas saja.
Perencanaan keuangan untuk tunjangan sertifikasi harus lebih serius diperhatikan. Sebagaimana pernah diungkapkan oleh Mentri Pendidikan, pertahunya dibutuhkan 62 triliun per tahun untuk sertifikasi (Kompas, 14 Mei 2010). Jangan sampai orang patah semangat karena sudah berusaha memenuhi standar sertifikasi dan mendapat sertifikat tetapi pemberian tunjangannya tidak lancar, apa lagi ketika uang itu digunakan untuk studi lanjut.
Perlu diciptakan alternatif kegiatan yang sifatnya pengembangan profesionalitas guru untuk memenuhi tuntutan untuk mengajar 24 jam seminggu. Guru yang bukan karena kemauannya sendiri tidak bisa memenuhi tuntutan 24 jam, misalnya, bisa mengganti ketentuan tersebut dengan jumlah jam yang sama untuk peningkatan kemampuan diri guru, bisa mengambil studi lanjut atau kursus-kursus yang sungguh menambah kompetensi mengajar mereka. Dengan demikian guru bisa menikmati tunjangan sertifikasi dan mereka selalu terdorong untuk menjadi lebih profesional. Read More......