Laman

Minggu, 27 Juli 2008

Pendidikan Indonesia

Banyaknya keberatan yang terlontar baik dari orang tua murid, guru, dan ahli pendidikan terhadap praktik pendidikan mengindikasikan bahwa 'konstruksi pendidikan Indonesia' masih sangat rapuh. Orang tua mengeluhkan mahalnya beaya pendidikan terutama beaya buku dan uang sekolah. Guru-guru mengeluhkan banyaknya peraturan yang tumpang tindih misalnya konsep desentralisasi KTSP dengan UNAS, KTSP dengan sentralisasi peraturan pemilihan buku dan kegiatan proses belajar mengajar dan lain-lain. Para ahli pendidikan mempertanyakan praktik-praktik pengajaran yang sangat memberatkan siswa sehingga mereka menjadi manusia kecil yang berbeban berat dan manusia kecil dengan masa depan yang belum menentu. Kunstruksi ini terlihat semakin rapuh bila masyarakat mencoba mengkritisi bebarapa perbedaan persepsi antara PUSKUR (Pusat Kurikulum) dan BNSP (Badan Nasional Standarisasi Pendidikan).

Nampaknya ada kecenderungan bahwa orang melihat praktik kecil-kecil tanpa melihat konsep dan konstruksinya. Misalnya soal pergantian buku pelajaran. Orang tua tentu merasa keberatan ketika buku yang sama tidak bisa 'lungsur' atau diwariskan untuk adik-adiknya, apalagi ketika mereka merasa harga buku pelajaran sangatlah mahal. Pemerintah dalam hal ini menteri pendidikan lalu membuat peraturan mentri yang menyangkut pelarangan penjualan buku di sekolah dan penyediaan buku yang bisa diunduh dari Internet. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana pemerintah terutama menteri pendidikan menyusun konstruksi pendidikan ini. Bahwa adanya perubahan konstruksi sangat memungkinkan perubahan buku. Misalnya pergeseran kurikulum 1994 ke KTSP mengakibatkan perbedaan tujuan, proses dan tentu saja buku yang digunakan.

Bisa jadi pendidikan di Indonesia memang sudah dipolitisir. Kebijaksanaan-kebijaksanaan yang diambil, misalnya dalam masalah mahalnya buku, bukan semata-mata memecahkan permasalahan pendidikan tetapi demi mendapat simpati rakyat yang tentu saja tidak akan memecahkan permasalahan mendasar pendidikan di Indonesia. Maka usaha-usaha yang dilaksanakan bukan dalam rangka membangun konstruksi dasar pendidikan tapi hanya menambal hal-hal praktis, yang sebenarnya bukan masalah. Ibaratnya kita membutuhkan taman bunga di rumah kita agar rumah kita semakin indah dengan bunga-bunga dan semakin harum, tetapi ketika ada kenyataan bahwa bunga-bunga belum tumbuh dengan baik sehingga belum bisa memberikan wewangiannya, si pemilik langsung menyemprotkan parfum yang mahal. Untuk jangka pendek, taman itu wangi, tetapi apakah tindakan ini sesuai dengan konstruksi pembangunan taman? Bagi saya kebijaksanaan penyediaan buku murah terlalu tergesa-gesa dan hanya menarik simpati masyarakat. Kenyataannya, belum semua buku tersedia (beda dengan janjinya), tidak semua orang bisa mengakses, dan yang ada fasilitas untuk mengakses mendapat kesulitan untuk mengakses.

Untuk itu, saya mengundang semua orang untuk terlibat membangun konstruksi pendidikan di Indonesia dan selalu menyiangi dan memelihara sehingga taman pendidikan kita berbunga dan menghasilkan bunga yang wangi. Saya mengundang untuk mengkritisi 'jalan pintas' yang sering kali diambil pemerintah dan berlawanan dengan kontruksi dasar pendidikan kita.

Widya Kiswara. Read More......