Laman

Minggu, 24 Agustus 2008

Kenisbian Pendidikan Indonesia


Ketika mengikuti konferensi ASIA TEFL di Bali saya bertemu seorang teman pengajar bahasa Inggris dari Jepang. Teman saya ini cukup kaget mendengar fakta bahwa pengangguran di Indonesia tinggi, sehingga seseorang yang lulus perguruan tinggi tidak langsung mendapat pekerjaan. Barangkali, hal yang demikian tidak terjadi di Jepang.
Ketika saya kembali dari konferensi itu, saya lalu mencoba merenungkan realita pendidikan di Indonesia. Kenapa bisa terjadi permasalahan tadi? Apa karena lowongan kerja tidak sebanding dengan angka kelulusan? Atau, kualitas lulusan perguruan tinggi kita belum bagus.
Ada satu hal yang saya temukan; sekolah adalah kenisbian. Setelah umur tertentu anak harus sekolah. Sebelum anak masuk SD mereka 'harus' belajar di TK. Kalau sudah tamat SD mereka akan belajar di SMP, dan setelah SMP mereka akan pindah ke SMA lalu kuliah. Urut-urutan ini nampaknya menjadi ke'harusan' tanpa tahu alasan mengapa?
Dengan kenisbian bersekolah ini, anak menjadi disorientasi. Mereka tidak tahu tujuan. Disorientasi ini menimbulkan banyak hal yang saling bergandengan. Anak yang asal diterima diperguruan tinggi biasanya tidak termotivasi untuk belajar secara maksimal. Banyak dari mereka bahkan menjadi frustasi karena terpaksa mempelajari sesuatu yang tidak mereka senangi. Mereka lalu lari, mencari dunia yang lebih menyenangkan, demi pelampiasan aktualisasi diri. Kenakalan-kenakalan remaja bisa timbul karena pelarian ini. Yang kebetulan bisa lulus bisa jadi tidak bisa menyerap ilmu dengan maksimal dan tidak bisa menyelesaikan study dengan tepat waktu. Ketika mereka harus mencari kerja mereka harus bertarung dengan mereka yang benar-benar termotivasi dan menguasai pengetahuan dengan baik.
Ide untuk mempromosikan Sekolah Kejuruan adalah suatu poin yang perlu didukung. Program ini bisa menghambat dan memotong rantai kenisbian dalam bersekolah. Apalagi kalau setiap orang di negara kita sudah sadar betul arti pendidikan. Pendidikan bukan untuk menuruti kenisbian, belajar bukan mengejar gelar dan gengsi tetapi belajar untuk hidup. Non scholae sed vitae discimus.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

lebih baik di bikin sekolah kejuruan enterpreneur ya pak, biar kerjanya ga cuman dorong2 mobil he he he

Widya Kiswara mengatakan...

Sebenarnya saya juga mempunyai responden yang sangat menarik untuk penelitian saya selanjutnya. Teman saya yang akan saya jadikan responden ini adalah Sarjana Komputer dari universitas negri yang sangat terkenal, dan dia membuat usaha sendiri dengan memberdayakan masyarakat sekitar. Dia adalah bukti bahwa belajar/sekolah bukanlah untuk mengejar nilai dan gelar semata tetapi dia bisa hidup dan menghidupi orang lain dengan pengetahuan dan ketrampilannya.